Read the Beforeitsnews.com story here. Advertise at Before It's News here.
Profile image
By Center for a Stateless Society
Contributor profile | More stories
Story Views
Now:
Last hour:
Last 24 hours:
Total:

Apa itu Libertarian Otoritaroan?

% of readers think this story is Fact. Add your two cents.


Oleh: Kevin Carson. Teks aslinya berjudul “What’s a ‘Libertarian Authoritarian’?”. DIterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Ameyuri Ringo.

Support Ringo by considering becoming his Patron.

….Baik, mari kita luruskan terlebih dahulu.

Dalam ulasannya atas buku Offended Freedom The Rise of Libertarian Authoritarianism, Brian Doherty dari Reason menyebut fenomena yang dibahas dalam buku ini sebagai kisah orang-orang kiri, yang pernah berkomitmen pada perubahan emansipatoris, tetapi kemudian berbalik arah menjadi memusuhi keterbukaan terhadap orang asing dan dunia yang lebih luas, sekaligus menunjukkan kemarahan terhadap apa yang mereka anggap sebagai otoritas ilmiah.

Namun anehnya, setelah menyebut fenomena itu, Doherty justru menolak istilahnya. Ia menyebutnya kontradiktif, lalu bertanya, a “What the Hell Is a ‘Libertarian Authoritarian’?

Baik, kalau begitu mari kita jawab secara sederhana.

Pertama-tama, kita bisa mulai dari Doherty sendiri. Ia berulang kali menjadi pembela proyekCharter Cities” milik korporasi yang berdiri di atas tanah petani yang dirampas oleh rezim kudeta militer.

Di luar itu, ada satu lingkungan luas yang menyebut dirinya libertarian, tetapi pandangan mereka justru dicirikan oleh sikap yang berkebalikan dengan prinsip libertarianisme, yaitu anti terhadap keterbukaan pada orang asing dan dunia luar, serta kemarahan terhadap apa yang dianggap sebagai otoritas ilmiah. Jika mau jujur, orang-orang ini bahkan tidak sulit ditemukan. Lihat saja kolom komentar di bawah artikel-artikel publikasi Reason.

Lalu ada Javier Milei di Argentina, yang dielu-elukan sebagai libertarian oleh media seperti Reason, padahal memiliki kecenderungan otoritariannya yang sangat kentara.

Ada pula Walter Block, yang selama bertahun-tahun membela gagasan bahwa perbudakan sukarela bisa dianggap sebagai praktik libertarian.

Dan tentu saja ada gerakan paleo-libertarian. Sebuah arus yang, tidak berlebihan jika disebut sebagai pembusukan panjang dalam tubuh libertarianisme itu sendiri. Jika kita mundur ke tahun 1990-an, kita akan menemukan Murray Rothbard dalam fase paleo-nya, yang bahkan seolah sudah mengantisipasi gaya politik represif ala Donald Trump melalui seruan seperti ini:

Rebut kembali jalanan, hancurkan para kriminal. Dan yang dimaksud tentu bukan kriminal kerah putih, tetapi kriminal jalanan seperti perampok, penjambret, pemerkosa, dan pembunuh. Polisi harus diberi kebebasan dan kewenangan untuk menghukum secara langsung, dan mekanisme korektif hanya perlu dilakukan jika polisi melakukan kesalahan.

Rebut kembali jalanan, singkirkan para gelandangan. Lepaskan para polisi untuk membersihkan jalanan dari gelandangan dan pengemis. Mereka akan pergi ke mana. Itu tidak penting. Yang penting mereka hilang dari ruang publik.

Di sekitar Rothbard pada masa itu, kita juga menemukan tokoh-tokoh seperti Hans Hermann Hoppe, Lew Rockwell, serta jaringan LRC dan Mises Caucus yang melakukan pengambilalihan agresif terhadap Libertarian National Committee. Tidak berhenti di situ, Libertarian Party of New Hampshire (LPNH) bahkan pernah menyatakan bahwa “siapa pun yang merayakan Juneteenth seharusnya dideportasi dari Amerika.”

Lebih jauh lagi, figur seperti Angela McArdle yang pernah memimpin LNC dikenal karena membuka ruang bagi penyangkal Holocaust dengan menyebut mereka sebagai “sesama pencari kebenaran”, bahkan memparafrasekan “14 Words” dalam sebuah tweet yang terkenal. Sementara Joshua Smith pernah secara terbuka menyerukan pencabutan hak pilih perempuan.

Di titik ini, kita tidak lagi berhadapan dengan sekadar penyimpangan kecil. Kita melihat sebuah kecenderungan ideologis yang cukup jelas.

Hoppe dan para pengikutnya, misalnya, secara terbuka membayangkan masyarakat ideal dalam bentuk neo-feodal. Tanah sepenuhnya diprivatisasi, dengan model-model sosial termasuk kecenderungan Hoppe terhadap monarki dan teokrasi Calvinis Gary North (meskipun sebagian besar dari mereka berupaya membangun masyarakat otoritarian ideal mereka dengan cara yang setidaknya secara nominal konsisten dengan prinsip non-agresi)

Masyarakat dibangun secara hierarkis. Mereka yang tidak memiliki tanah hanya punya dua pilihan, menjadi penyewa atau buruh. Bahkan konsep seperti “waktu bersantai” diperlakukan bukan sebagai analisis ekonomi, melainkan sebagai penilaian moral terhadap manusia, dengan bahasa yang nyaris jatuh pada eugenika.

Kita hidup di negara di mana sebagian besar penduduknya adalah orang dengan “waktu bersantai” yang tinggi, yang tidak peduli pada kebersihan, etika, atau kepedulian sosial. Yang mereka pikirkan hanya bagaimana mendapatkan kepuasan instan.

Kelompok paleo terkenal karena terus berteriak-teriak tentang “arus pengungsi”, dan Hoppe (digambarkan di sini dengan helikopter, sebagai simbol dukungannya terhadap kediktatoran Pinochet) telah menyerukan “pengusiran fisik” terhadap mereka yang pandangan dan budayanya tidak sesuai dengan masyarakat yang (ehem) “libertarian”. LPNH yang sudah saya sebutkan sebelumnya juga pernah mencuit: “Para degenerasi harus diusir untuk mempertahankan tatanan sosial libertarian.” Akhirnya, kelompok paleo, justru telah melompat sangat jauh dari upaya kritik atas berkurangnya kebebasan sipil akibat pemaksaan lockdown, dan justru sepenuhnya mempromosikan konspirasi-konspirasi gila anti-masker dan anti-vaksin.

Di tengah realitas seperti ini, pernyataan Doherty bahwa para otoritarian tersebut bukan libertarian terasa kehilangan pijakan.

Para otoritarian yang diteliti oleh para penulis—mereka yang marah terhadap imigrasi yang lebih terbuka—sama sekali bukan libertarian….

Para penulis telah menemukan fenomena yang benar-benar menarik—orang-orang yang dulunya berhaluan kiri, yang “pernah berkomitmen pada transformasi emansipatoris dari tatanan yang ada,” kini telah beralih ke permusuhan terhadap keterbukaan terhadap orang asing dan dunia yang lebih luas serta kemarahan terhadap apa yang dianggap sebagai otoritas ilmiah.

Lebih ironis lagi, Reason sebagai media juga tidak sepenuhnya netral. Ia secara aktif menggemakan narasi perang budaya sayap kanan. Dari keluhan tentang cancel culture hingga retorika tentang “woke mobs”, banyak tulisannya bergerak dalam orbit yang sama dengan wacana seperti Quillette, Steven Pinker, hingga jaringan yang dikenal sebagai Intellectual Dark Web.

Memang benar, tidak semua libertarian secara eksplisit mengadopsi politik kanan kultural seperti anti-aborsi atau anti-LGBT. Namun itu tidak berarti mereka bebas dari kecenderungan hierarkis.

Dalam praktiknya, bahkan libertarian kanan yang mengklaim diri liberal secara sosial tetap mempertahankan pembelaan terhadap apa yang mereka sebut sebagai hierarki alami dalam ekonomi. Dan kecenderungan ini bukan hal baru. Ia sudah mengakar sejak lama, sejak Rothbard menyingkirkan Karl Hess dan sejak jaringan kapital besar “kochtopus” mulai mengonsolidasikan pengaruhnya dalam institusi libertarian.

Yang lebih problematis lagi adalah refleks politik yang terus berulang.

Dalam hampir setiap konflik antara pekerja dan bos, atau antara penyewa dan tuan tanah, posisi yang diambil hampir selalu sama. Mereka akan selalu berdiri di sisi para majikan dan tuan tanah.

Memang, secara retoris mereka akan mengatakan bahwa yang mereka bela adalah pasar bebas, bukan kepentingan bisnis atau orang kaya. Mereka juga sering menolak kapitalisme kroni.

Namun dalam praktiknya, posisi mereka hampir selalu jatuh pada pembelaan terhadap struktur yang ada. Orang kaya dilihat sebagai pencipta lapangan kerja. Laba dianggap sebagai hasil keuntungan yang sah, dan kapitalisme korporasi global diperlakukan sebagai pasar bebas. Seolah-olah, seperti dalam ungkapan klasik itu, para bos memang selalu membutuhkan lebih banyak “bantuan”.

Pada akhirnya, jika kita bertanya apa itu libertarian otoritarian, jawabannya sebenarnya tidak terlalu rumit.

Dalam banyak hal, ia bukan sekadar penyimpangan kecil dalam tradisi libertarian. Ia adalah kecenderungan dominan dalam libertarianisme kanan itu sendiri.

Semoga ini cukup menjawab pertanyaanmu, Brian.

The Center for a Stateless Society (www.c4ss.org) is a media center working to build awareness of the market anarchist alternative


Source: https://c4ss.org/content/61083


Before It’s News® is a community of individuals who report on what’s going on around them, from all around the world.

Anyone can join.
Anyone can contribute.
Anyone can become informed about their world.

"United We Stand" Click Here To Create Your Personal Citizen Journalist Account Today, Be Sure To Invite Your Friends.

Before It’s News® is a community of individuals who report on what’s going on around them, from all around the world. Anyone can join. Anyone can contribute. Anyone can become informed about their world. "United We Stand" Click Here To Create Your Personal Citizen Journalist Account Today, Be Sure To Invite Your Friends.


LION'S MANE PRODUCT


Try Our Lion’s Mane WHOLE MIND Nootropic Blend 60 Capsules


Mushrooms are having a moment. One fabulous fungus in particular, lion’s mane, may help improve memory, depression and anxiety symptoms. They are also an excellent source of nutrients that show promise as a therapy for dementia, and other neurodegenerative diseases. If you’re living with anxiety or depression, you may be curious about all the therapy options out there — including the natural ones.Our Lion’s Mane WHOLE MIND Nootropic Blend has been formulated to utilize the potency of Lion’s mane but also include the benefits of four other Highly Beneficial Mushrooms. Synergistically, they work together to Build your health through improving cognitive function and immunity regardless of your age. Our Nootropic not only improves your Cognitive Function and Activates your Immune System, but it benefits growth of Essential Gut Flora, further enhancing your Vitality.



Our Formula includes: Lion’s Mane Mushrooms which Increase Brain Power through nerve growth, lessen anxiety, reduce depression, and improve concentration. Its an excellent adaptogen, promotes sleep and improves immunity. Shiitake Mushrooms which Fight cancer cells and infectious disease, boost the immune system, promotes brain function, and serves as a source of B vitamins. Maitake Mushrooms which regulate blood sugar levels of diabetics, reduce hypertension and boosts the immune system. Reishi Mushrooms which Fight inflammation, liver disease, fatigue, tumor growth and cancer. They Improve skin disorders and soothes digestive problems, stomach ulcers and leaky gut syndrome. Chaga Mushrooms which have anti-aging effects, boost immune function, improve stamina and athletic performance, even act as a natural aphrodisiac, fighting diabetes and improving liver function. Try Our Lion’s Mane WHOLE MIND Nootropic Blend 60 Capsules Today. Be 100% Satisfied or Receive a Full Money Back Guarantee. Order Yours Today by Following This Link.


Report abuse

Comments

Your Comments
Question   Razz  Sad   Evil  Exclaim  Smile  Redface  Biggrin  Surprised  Eek   Confused   Cool  LOL   Mad   Twisted  Rolleyes   Wink  Idea  Arrow  Neutral  Cry   Mr. Green

MOST RECENT
Load more ...

SignUp

Login