Read the Beforeitsnews.com story here. Advertise at Before It's News here.
Profile image
By Center for a Stateless Society
Contributor profile | More stories
Story Views
Now:
Last hour:
Last 24 hours:
Total:

Keberagaman dan Harmoni

% of readers think this story is Fact. Add your two cents.


Oleh: Trevor Hauge. Teks aslinya berjudul “Diversity and Harmony”. Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Ameyuri Ringo.

Support Iman Amirullah by considering becoming his Patron.

Berjalan sejajar dengan perjuangan antara kapitalis dan pekerja adalah konflik antara mereka yang menghargai masyarakat yang menghormati pluralitas dan keberagaman dan mereka yang menuntut keseragaman dan homogenitas. Pluralisme adalah doktrin yang sudah lama mapan. Ia muncul dalam banyak ideologi dengan derajat yang berbeda-beda. Liberalisme, anarkisme, sosial demokrasi, bahkan beberapa bentuk libertarianisme kanan memiliki aspek pluralistik. Di kutub sebaliknya terdapat doktrin kesamaan dan ortodoksi yang telah dikenal dengan banyak nama seperti konservatisme, tradisionalisme, perennialisme, integralisme, dan yang paling mengerikan dari semuanya, fasisme. Karena kita sedang membicarakan kecenderungan historis yang luas yang melampaui ideologi tertentu, mari kita sebut kelompok pertama sebagai para pejuang pluralisme dan kelompok kedua sebagai para homogenis, karena seperti mesin dengan nama yang sama, mereka berusaha menggiling unsur-unsur yang beragam menjadi substansi yang seragam dan tak terbedakan.

Para pendukung ideologi homogenisasi berargumen bahwa keberagaman secara inheren menyebabkan konflik. Mereka mengklaim bahwa masyarakat membutuhkan nilai budaya bersama untuk membentuk masyarakat yang kohesif. Jika kita semua percaya pada tuhan yang berbeda, tidak bisa sepakat soal berapa jumlah gender, tidak berbicara dalam bahasa yang sama, dan tidak memiliki konsep keluarga yang sama, maka masyarakat akan runtuh menjadi kekacauan dan, berani saya katakan, anarki! Para homogenis cenderung membuat strawman terhadap para pejuang pluralisme seolah-olah mereka tidak peduli pada kebutuhan akan kohesi sosial. Padahal ketika berbicara soal kohesi, yang sebenarnya dipercaya para pejuang pluralisme adalah bahwa nilai-nilai yang lebih luas seperti kebebasan, kesetaraan, keadilan, dan solidaritas dapat menjadi perekat yang menyatukan masyarakat serta memenuhi kebutuhan akan kohesi sosial.

Namun penting untuk dicatat bahwa para advokat pluralisme tidak secara membabi buta percaya bahwa mencampurkan sekumpulan orang yang tidak saling menghormati perbedaan otomatis akan menghasilkan masyarakat yang stabil. Para pejuang pluralisme umumnya cukup sadar bahwa solusi nyata tetap diperlukan untuk menciptakan stabilitas. Meskipun solusi pastinya bisa berbeda tergantung ideologi pluralis tertentu—liberalisme, anarkisme, libertarianisme, dan sebagainya—para pejuang pluralisme secara umum percaya bahwa orang-orang dengan sistem nilai berbeda tetap dapat hidup berdampingan jika mereka memilih menerima seperangkat nilai meta-kultural yang lebih luas yang menekankan penghormatan terhadap keberagaman, bersamaan dengan adat atau keyakinan masing-masing. Dalam sistem pluralistik, setiap individu dapat memiliki ruang budaya otonom mereka sendiri selama mereka sepakat untuk saling menghormati batas satu sama lain. Ini tidak berarti bahwa orang harus meninggalkan adat mereka sendiri dan berasimilasi, hanya saja mereka akan lebih baik jika menyadari bahwa semua pihak akan diuntungkan ketika menerima dan merangkul kenyataan bahwa tidak semua orang akan memiliki preferensi budaya atau agama yang sama.

Dengan kata lain, orang-orang dapat memegang nilai budaya unik mereka sendiri yang hidup berdampingan dengan nilai bersama yang lebih luas itu dan tetap bersatu secara sukarela untuk mempertahankan otonomi masing-masing. Anda bisa menjadi seorang Kristen heteroseksual atau Muslim yang sangat taat dan saya bisa menjadi ateis biseksual yang akar dibakar di neraka Anda, selama kita saling menghormati perbedaan dan menahan diri untuk tidak menggunakan hukum—yakni kekerasan negara—untuk memaksakan kekuasaan atas satu sama lain. Kita juga bisa bekerja sama untuk mempertahankan hak masing-masing untuk berbeda, dan melalui itu menemukan semacam kohesi sosial yang lahir secara alami dan solidaristik. Ini adalah kohesi yang lahir dari kehendak bebas. Ia tumbuh secara alami dari mutual aid dan pertahanan komunitas. Kita tidak perlu memiliki identitas yang persis sama, atau bahkan identitas yang mirip, jika kita bisa menemukan titik temu melalui keinginan akan otonomi dan kebutuhan bawaan kita terhadap kerja sama.

Mari kita baca kembali kisah para pejuang Zapatista di Chiapas, Meksiko. Zapatista adalah kelompok sosialis libertarian yang terdiri dari masyarakat adat dan Mestizo yang bangkit melawan negara Meksiko sebagai respons terhadap skema privatisasi NAFTA. Mereka berbicara dalam banyak bahasa berbeda. Berdasarkan sensus 2010, 38,1 persen masyarakat adat di Chiapas berbicara dalam bahasa Tzeltal, 34,5 persen Tzotil, 15,9 persen Chol, 4,5 persen Zoque, 4,4 persen Tojolabal, 0,7 persen Mame, 0,5 persen Kanjobal, dan 1,3 persen berbicara dalam 45 bahasa minor lainnya.1 Itu berarti ada 52 bahasa berbeda. Alex Khasnabish, penulis ‘Zapatistas: Rebellion From The Grassroots To The Global’, menunjukkan bahwa penghormatan terhadap keberagaman merupakan bagian integral dari ideologi, struktur politik, bahkan konsep keadilan Zapatista itu sendiri.

Konsep “keadilan” Zapatista bukan sekadar tuntutan agar hukum diterapkan secara adil atau sistem hukum direformasi, melainkan tuntutan akan masyarakat di mana martabat dan penghormatan menjadi standar utama dalam memperlakukan manusia. Konsep demokrasi, kebebasan, dan keadilan Zapatista bertumpu pada pandangan bahwa dunia adalah tempat yang dicirikan oleh pluralitas dan keberagaman, sebuah pandangan yang tercermin dengan sangat jelas dalam slogan mereka “queremos un mundo donde quepan muchos mundos” — “kami menginginkan dunia yang mampu memuat banyak dunia.” Agar sebuah masyarakat dapat disebut “adil”, masyarakat tersebut tidak hanya harus menganggap perbedaan sebagai sesuatu yang sah, tetapi juga mengakui bahwa perbedaan dan pluralitas radikal adalah karakteristik mendasar dari eksistensi itu sendiri, bukan sekadar sesuatu yang ditoleransi.

Bahkan, penekanan Zapatista terhadap “kesetaraan” juga merupakan konsep yang sangat dekat dengan “keadilan”, karena secara eksplisit menolak segala upaya untuk menyeragamkan manusia. Kesetaraan bagi mereka bukanlah standardisasi, melainkan penghargaan dan penghormatan terhadap perbedaan serta otonomi.2

Para pejuang Zapatista mengorganisasi diri mereka melalui konfederasi terdesentralisasi berbasis majelis desa yang menggunakan campuran demokrasi langsung dan demokrasi konsensus, di mana semua orang yang berusia di atas 16 tahun memiliki suara langsung dalam urusan komunitas. Sistem ini mencakup setengah wilayah Chiapas. Mereka melawan negara Meksiko dan kartel narkoba, dan berhasil mempertahankan cara hidup anarkis ini sejak 1994. Jika keberagaman secara inheren tidak cocok dengan kohesi sosial dan identik dengan keruntuhan masyarakat, bagaimana mungkin masyarakat tanpa negara yang dibangun di atas penghormatan terhadap keberagaman mampu mempertahankan diri melawan negara militeristik dengan logistik dan teknologi yang jauh lebih unggul selama tiga puluh satu tahun? Itu lebih lama daripada keberadaan masyarakat homogen terkenal seperti Nazi Jerman atau Italia Fasis yang banyak bicara soal ras unggul dan superioritas homogenitas.

Jika Zapatista belum cukup meyakinkan bahwa kelompok masyarakat yang beragam dapat menyingkirkan perbedaan mereka demi tujuan bersama dalam jangka panjang, hidup harmonis, dan mempertahankan diri, kita juga memiliki contoh Rojava, konfederasi sosialis libertarian di Suriah Utara dan Timur, di mana berbagai bahasa digunakan dan berbagai kelompok etnis maupun agama tidak hanya memilih hidup berdampingan tetapi juga berjuang melawan teror homogenisasi ISIS sejak 2012 hingga sekarang. Bahkan dapat dikatakan bahwa tanpa perjuangan YPG/YPJ di Rojava, kekuasaan ISIS mungkin akan bertahan lebih lama. Ada juga Konfederasi Swiss, yang sering disebut sebagai negara kehendak (Willensnation atau ‘nation of volition’) ketimbang negara bangsa, karena empat bahasa berbeda digunakan di sana dan masing-masing dominan di kanton yang berbeda. Konfederasi Swiss berdiri pada 12 September 1848, 177 tahun yang lalu. Masyarakat seperti itu, baik berbentuk negara maupun tidak, tidak mungkin bertahan lama tanpa adanya penghormatan mendasar terhadap keberagaman yang tertanam dalam budayanya.

Bersamaan dengan bukti-bukti tersebut, sulit untuk tidak menyimpulkan bahwa selain sistem kelas dan aparatus negara, ideologi homogenisasi adalah salah satu penyebab utama konflik manusia dan ironisnya justru menjadi musuh terbesar dari harmoni yang ingin diwujudkannya sendiri. Perang Dunia Kedua saja menewaskan lebih dari 50 juta orang dan dimulai oleh seseorang yang seluruh obsesinya berpusat pada gagasan budaya homogen yang dominan. Adolf Hitler dan para pengikutnya percaya bahwa jika semua orang menjadi patriot Jerman bermata biru dan berambut pirang, maka seluruh masalah dunia akan hilang dan digantikan oleh kedamaian. Namun pemikiran seperti itu justru menghasilkan kematian, kehancuran, dan keruntuhan tatanan sosial itu sendiri. Dan perang Nazi bahkan belum mencakup seluruh rangkaian konflik tribalistik yang terus menghancurkan dunia hingga hari ini. Salah satu contohnya adalah genosida terhadap rakyat Palestina oleh negara-etnis Israel, salah satu kekuatan homogenisasi kontemporer.

Sementara gerakan Zionis memang sudah memiliki dukungan sebelum Holocaust, gerakan itu benar-benar memperoleh popularitas dan momentum setelah tragedi tersebut. Banyak diaspora Yahudi awalnya melihat negara Yahudi-Israel yang baru berdiri sebagai langkah yang diperlukan untuk menjamin keselamatan mereka di dunia yang sebelumnya hampir memusnahkan mereka tanpa alasan yang masuk akal. Dan saya bisa memahami rasa sakit mereka sambil tetap melihat cacat yang melekat dalam solusi tersebut. Penganiayaan terkadang mendorong orang menuju solusi nasionalistik yang menekankan homogenitas dan tribalisme. Namun lebih sering daripada tidak, solusi nasionalistik justru membuat orang melakukan tindakan yang mencerminkan penindasan yang dahulu mereka alami sendiri, dan itulah yang terjadi dalam gerakan Zionis. Saat saya menulis ini, Gaza masih terus dihancurkan oleh bom-bom Israel. Donald Trump, sekutu paling kuat negara Zionis, bahkan secara terbuka membicarakan pembersihan etnis di Gaza.3 Sebagian dari mereka yang dahulu tertindas memilih menjadi penindas sebagai akibat dari trauma Holocaust. Sebagian lainnya dalam diaspora Yahudi menolak homogenitas dan nasionalisme dan hingga hari ini masih terus menolaknya, dan dalam jangka panjang itu adalah pilihan yang lebih baik. Konflik Israel-Palestina tidak akan berakhir setelah Gaza dibersihkan secara etnis. Sebagai respons terhadap kekejaman negara Israel, banyak penyintas Palestina kemungkinan akan mendukung xenofobia dan campism Hamas, dan saya juga bisa memahami rasa sakit dan penderitaan mereka sambil tetap mengakui bahwa ideologi Hamas pada akhirnya memiliki masalah yang sama dengan Zionisme, yakni kecenderungan homogenisasi. Seluruh proses ini merupakan lingkaran umpan balik negatif, dan sering kali dimulai ketika mayoritas dominan memutuskan untuk memaksakan budayanya kepada kelompok minoritas.

Mari kita lihat sebuah ilustrasi teoretis. Bayangkan ada dua kelompok, Kelompok A dan Kelompok B. Di dalam masing-masing kelompok terdapat dua gerakan budaya yang saling bersaing, yaitu gerakan homogen yang ingin membangun monokultur dominan, dan gerakan pluralis yang memungkinkan banyak budaya hidup secara otonom berdampingan satu sama lain. Ketika gerakan pluralis menjadi hegemonik di kedua kelompok, peluang kedua kelompok tersebut untuk menyelesaikan konflik secara damai menjadi lebih besar karena salah satu prinsip utama budaya mereka adalah koeksistensi. Mereka tidak secara inheren melihat hubungan antar manusia sebagai zero-sum game, dimana hanya satu budaya yang boleh dominan. Mentalitas homogenisasi menciptakan rasa takut dan paranoia yang semakin diperparah oleh situasi ekonomi yang buruk.

Sebaliknya, kelompok pluralistik cenderung tidak melihat kelompok lain sebagai ancaman potensial kecuali mereka memiliki alasan yang sangat kuat untuk melakukannya, dan bahkan ketika alasan itu ada, mereka lebih mungkin mencari solusi diplomatik sebelum menggunakan kekerasan. Sementara itu, ketika mentalitas homogenisasi menjadi hegemonik dalam satu kelompok, risiko konflik meningkat. Namun bahkan dalam kondisi tersebut, peluang deeskalasi tetap lebih besar jika kelompok lainnya tetap berpegang pada nilai koeksistensi, sehingga kelompok yang bersikap bermusuhan memiliki kesempatan untuk menyelesaikan masalah internalnya sendiri. Ini bukan berarti konflik selalu dapat dihindari, tetapi risikonya dapat dikurangi. Namun bagaimana jika kedua kelompok sama-sama menerima pengaruh homogenisasi? Konflik, kekacauan, dan kehancuran praktis menjadi tak terhindarkan karena ideologi homogenisasi secara inheren memusuhi kelompok luar.

Logika yang sama tidak hanya berlaku dalam hubungan antar kelompok, tetapi juga dalam dinamika internal suatu kelompok. Dalam konteks ini pun, ideologi homogenisasi seringkali justru meningkatkan gesekan daripada menguranginya. Sebagai seorang pluralis, saya dapat hidup berdampingan dengan pluralis lain apapun keyakinan mereka karena kami semua sepakat pada prinsip dasar live and let live. Saya hidup dengan cara saya sendiri, mereka hidup dengan cara mereka sendiri. Kami saling mempertahankan hak satu sama lain untuk hidup seperti itu dan karena itulah solidaritas dapat tumbuh di antara kami meskipun terdapat perbedaan budaya. Kecintaan terhadap kebebasan individulah yang menyatukan kami dan menciptakan harmoni. Tidak masalah apakah kami berbicara dalam bahasa yang berbeda, menyembah tuhan yang berbeda atau bahkan tidak menyembah tuhan sama sekali, memiliki struktur keluarga yang berbeda, atau warna kulit yang berbeda.

Ketika ideologi yang ingin menyeragamkan masyarakat mulai diperkenalkan, ia menciptakan nubuat yang terpenuhi dengan sendirinya yakni kekerasan, sektarianisme, penindasan, dan pada akhirnya perpecahan. Konflik menjadi kemungkinan yang sangat besar karena homogenisasi membutuhkan dominasi untuk menghapus keberagaman. Mustahil menghapus seluruh variasi manusia dan mengontrol semua variabel, sehingga perebutan kekuasaan menjadi tak terelakkan ketika dominasi menjadi hubungan utama yang mengatur masyarakat. Ini karena kelompok yang didominasi dan dipaksa berasimilasi pada akhirnya tidak memiliki pilihan selain membela diri, dan itu hanya akan memperbesar konflik.

Tekanan konflik sayangnya juga dapat mendorong kelompok minoritas yang menjadi sasaran untuk menerima politik campisme sebagai bentuk pertahanan diri. Ketika kelompok mayoritas memutuskan untuk menargetkan minoritas di dalam masyarakatnya sendiri, hal itu memberi sinyal kepada komunitas tersebut bahwa mereka bukan lagi bagian dari ‘masyarakat’ tersebut, yang secara wajar dapat memicu respons perlawanan. Misalnya, karena menjadi sasaran negara Amerika Serikat dan dikucilkan oleh sebagian besar publik Amerika, sebagian anggota diaspora Palestina di AS mulai memandang siapa pun yang bersedia melawan negara Israel atau sekutu imperialisnya, Amerika, sebagai calon sekutu, termasuk kekuatan imperialis rival seperti Rusia atau Tiongkok beserta sekutunya seperti Korea Utara dan Iran. Namun itu merupakan kesalahan strategis, karena negara-negara tersebut juga melakukan penaklukan eksternal maupun penindasan internal terhadap kelompok minoritas, tidak jauh berbeda dengan Amerika Serikat. Dalam kasus Rusia, bahkan keduanya berlangsung sekaligus. Dalam contoh ini maupun kasus lainnya, kekuatan homogenisasi yang memulai konflik hampir pasti akan memanfaatkan kesalahan strategis tersebut untuk memperkuat klaim bahwa kelompok minoritas sasaran tidak dapat dipercaya, sehingga rasa keterasingan semakin membesar. Dan pada akhirnya, nubuat itu pun terpenuhi ketika konflik terus meningkat.

Kabar baiknya, ideologi homogenisasi tidak dapat lolos dari merayapnya entropi yang tak terhindarkan. Bahkan ketika faksi homogenisasi berhasil membangun kontrol totaliter dan percaya bahwa mereka akhirnya telah membersihkan diri dari “unsur subversif”, mereka pada akhirnya tetap kehilangan kendali karena mereka tidak mampu mencegah lahirnya faksi-faksi baru di dalam tubuh mereka sendiri yang kemudian menciptakan perpecahan. Menyimpang adalah sifat dasar manusia. Misalnya ketika Nazi berkuasa, mereka segera harus membersihkan para pengikut Strasser dan Rohm atau menghadapi perebutan kekuasaan internal. Pertimbangkan juga kaum Bolshevik. Meskipun mereka tidak mendorong homogenitas etnis, mereka sangat menekankan homogenitas ideologis dan hasil akhirnya tetap sama yakni faksionalisme, pembersihan internal, perebutan kekuasaan, konflik, dan pada akhirnya disintegrasi. Homogenisasi otoritarian tidak akan pernah benar-benar bertahan karena kita semua adalah individu dengan cara berpikir yang unik. Bahkan para homogenis sendiri tidak dapat lolos dari kenyataan ini. Ketika mereka merasa akhirnya semua orang berada di halaman yang sama, seseorang akan mulai berbeda pandangan dan dunia rapuh yang mereka bangun pun runtuh karena mereka tidak menghormati keberagaman pemikiran, apalagi identitas. Dari sana mereka mulai saling menyerang, yang terkadang justru memberi peluang bagi kelompok tertindas dan sekutu mereka untuk memberontak. Satu-satunya cara untuk benar-benar menyelesaikan persoalan ini mungkin hanya jika manusia berubah menjadi semacam robot sibernetik. Tapi mungkin memang itulah tujuan akhir negara polisi tekno-fasis.

Kadang konflik antara pluralisme dan homogenisasi ini dibingkai seolah identik dengan konflik antara ateisme dan agama, padahal tidak demikian. Kaum New Atheists pada awal 2000-an mencoba membingkai kekerasan di Timur Tengah sebagai pertarungan antara penganut agama Timur yang barbar melawan sekularis Barat yang tercerahkan. Pola pikir ini mungkin paling jelas terlihat dalam beberapa halaman awal buku The God Delusion karya Richard Dawkins pada 2006:

“Pada Januari 2006 saya membawakan dokumenter televisi dua bagian di televisi Inggris, Channel Four yang berjudul ‘Root of All Evil?’ Sejak awal saya tidak menyukai judul itu. Agama bukan akar dari semua kejahatan, karena tidak ada satu hal pun yang menjadi akar dari segalanya. Tetapi saya menyukai iklan yang dipasang Channel Four di surat kabar nasional. Iklan itu menampilkan cakrawala Manhattan dengan tulisan ‘Bayangkan dunia tanpa agama.’ Apa hubungannya? Menara kembar World Trade Center terlihat jelas di sana. Bayangkan, bersama John Lennon, dunia tanpa agama. Bayangkan tidak ada pelaku bom bunuh diri, tidak ada 9/11, tidak ada 7/7, tidak ada Perang Salib, tidak ada perburuan penyihir, tidak ada Gunpowder Plot, tidak ada pemisahan India, tidak ada perang Israel/Palestina, tidak ada pembantaian Serbia/Kroasia/Muslim, tidak ada penganiayaan terhadap Yahudi sebagai ‘pembunuh Kristus’, tidak ada konflik Irlandia Utara, tidak ada ‘honour killing’, tidak ada televangelis berjas mengkilap yang menipu orang-orang lugu demi uang mereka (‘Tuhan ingin Anda memberi sampai terasa sakit’). Bayangkan tidak ada Taliban yang menghancurkan patung-patung kuno, tidak ada pemenggalan publik terhadap para penista agama, tidak ada cambukan terhadap kulit perempuan karena memperlihatkan sedikit bagian tubuhnya.”

Saya sendiri tidak akan berpura-pura bahwa saya selalu kebal dari cara berpikir sesederhana itu. Ketika masih muda sebagai seorang ateis, buku tersebut sangat beresonansi bagi saya. Namun narasi itu mulai runtuh ketika saya mulai mempelajari sejarah revolusioner. Dawkins mengklaim bahwa tanpa agama tidak akan ada pemenggalan publik, padahal Revolusi Prancis saja sudah cukup untuk menunjukkan betapa lemahnya klaim itu. Bagaimana dengan klaimnya bahwa konflik Irlandia Utara dan Israel-Palestina tidak akan ada? Tidak ada alasan khusus mengapa kolonialisme tidak akan tetap ada tanpa agama. Uni Soviet menemukan pembenarannya sendiri tanpa agama dengan sangat baik. Tanyakan saja pada rakyat Ukraina atau Ingushetia tentang itu. Jadi meskipun saya seorang ateis dan sampai hari ini masih menikmati kritik terhadap fundamentalisme agama, persoalannya tidak sesederhana rasionalitas ateisme melawan irasionalitas agama. Faktanya, ideologi homogenisasi yang mendorong konflik manusia dapat muncul dalam berbagai sistem keyakinan, baik teistik maupun ateistik.

Meskipun saya tidak sepenuhnya setuju dengan kesimpulan ultra-individualistik anarkis Josiah Warren, karena posisi saya sendiri berada di antara anarkisme individualis dan sosial, saya tetap merasa ada kebenaran ketika ia mengatakan bahwa “keberagaman tak terbatas, bukan ‘kesatuan’, adalah sesuatu yang tak terhindarkan.4” Namun saya akan memodifikasinya dengan mengatakan bahwa keberagaman tak terbatas dan kesatuan tidak selalu merupakan lawan kata, melainkan keberagaman tak terbatas perlu diberi ruang yang sangat luas di dalam masyarakat. Jika ruang itu tidak diberikan dan keberagaman ditekan sebagaimana diinginkan para homogenis, maka yang lahir adalah konflik, karena perebutan kekuasaan menjadi satu-satunya pilihan aktif ketika otonomi ditolak. Namun jika keberagaman dibiarkan berkembang dalam sistem yang dibangun di atas saling menghormati perbedaan, ia justru akan menjadi sumber solidaritas yang secara alami melahirkan harmoni. Sebagai seorang anarkis, saya tidak pernah berilusi bahwa masyarakat apapun, dengan negara maupun tanpa negara, akan bertahan selamanya. Perubahan dan entropi, sejauh yang dapat kita pahami, adalah sesuatu yang tak terelakkan. Masyarakat akan terus bangkit dan runtuh, datang dan pergi, pasang dan surut. Itulah keindahan dari “anarki” baik dalam makna sehari-hari maupun politik. Namun itu bukan berarti kita harus putus asa dan jatuh ke dalam nihilisme yang justru mempercepat entropi, melainkan bahwa kita perlu membangun sistem yang dinamis, pluralistik, dan mampu mengakomodasi beragam cara hidup dengan menumbuhkan penghormatan terhadap keberagaman. Jika anarki bisa menjadi keteraturan, maka penghormatan terhadap keberagaman juga bisa menjadi persatuan. Jika Anda menghargai kohesi sosial, maka Anda seharusnya menjadi seorang pluralis, bukan homogenis. Homogenitas bukanlah solusi. Ia justru masalahnya.


1Chiapas: Forever Indigenous”, oleh John Schmal, Indigenous Mexico.

2Zapatistas: Rebellion From The Grassroots To The Global’ oleh Alex Khasnabish, pg. 91.

3Trump doubles down on plan to empty Gaza. This is what he has said and what’s at stake”. oleh Lee Leath, AP News.

4The Motives for Communism”. oleh Josiah Warren, The Anarchist Library.

The Center for a Stateless Society (www.c4ss.org) is a media center working to build awareness of the market anarchist alternative


Source: https://c4ss.org/content/61181


Before It’s News® is a community of individuals who report on what’s going on around them, from all around the world.

Anyone can join.
Anyone can contribute.
Anyone can become informed about their world.

"United We Stand" Click Here To Create Your Personal Citizen Journalist Account Today, Be Sure To Invite Your Friends.

Before It’s News® is a community of individuals who report on what’s going on around them, from all around the world. Anyone can join. Anyone can contribute. Anyone can become informed about their world. "United We Stand" Click Here To Create Your Personal Citizen Journalist Account Today, Be Sure To Invite Your Friends.


LION'S MANE PRODUCT


Try Our Lion’s Mane WHOLE MIND Nootropic Blend 60 Capsules


Mushrooms are having a moment. One fabulous fungus in particular, lion’s mane, may help improve memory, depression and anxiety symptoms. They are also an excellent source of nutrients that show promise as a therapy for dementia, and other neurodegenerative diseases. If you’re living with anxiety or depression, you may be curious about all the therapy options out there — including the natural ones.Our Lion’s Mane WHOLE MIND Nootropic Blend has been formulated to utilize the potency of Lion’s mane but also include the benefits of four other Highly Beneficial Mushrooms. Synergistically, they work together to Build your health through improving cognitive function and immunity regardless of your age. Our Nootropic not only improves your Cognitive Function and Activates your Immune System, but it benefits growth of Essential Gut Flora, further enhancing your Vitality.



Our Formula includes: Lion’s Mane Mushrooms which Increase Brain Power through nerve growth, lessen anxiety, reduce depression, and improve concentration. Its an excellent adaptogen, promotes sleep and improves immunity. Shiitake Mushrooms which Fight cancer cells and infectious disease, boost the immune system, promotes brain function, and serves as a source of B vitamins. Maitake Mushrooms which regulate blood sugar levels of diabetics, reduce hypertension and boosts the immune system. Reishi Mushrooms which Fight inflammation, liver disease, fatigue, tumor growth and cancer. They Improve skin disorders and soothes digestive problems, stomach ulcers and leaky gut syndrome. Chaga Mushrooms which have anti-aging effects, boost immune function, improve stamina and athletic performance, even act as a natural aphrodisiac, fighting diabetes and improving liver function. Try Our Lion’s Mane WHOLE MIND Nootropic Blend 60 Capsules Today. Be 100% Satisfied or Receive a Full Money Back Guarantee. Order Yours Today by Following This Link.


Report abuse

Comments

Your Comments
Question   Razz  Sad   Evil  Exclaim  Smile  Redface  Biggrin  Surprised  Eek   Confused   Cool  LOL   Mad   Twisted  Rolleyes   Wink  Idea  Arrow  Neutral  Cry   Mr. Green

MOST RECENT
Load more ...

SignUp

Login