Rekonsiliasi Pemikiran Marx dan George
Oleh: John Martino. Teks aslinya berjudul “Reconciling the Insights of Marx and George”. Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Ameyuri Ringo.
Sebuah Studi Perbandingan
“Modal adalah akumulasi hasil kerja manusia di masa lalu. Layaknya vampir, ia hanya dapat terus hidup dengan mengisap kerja manusia yang masih berlangsung. Semakin banyak kerja yang diisapnya, semakin besar pula ia berkembang.”
— Karl Marx, Capital Volume One, Bab 10
“Keterkaitan antara kemiskinan dan kemajuan merupakan teka-teki terbesar pada zaman kita…. Selama seluruh kekayaan tambahan yang dihasilkan kemajuan modern hanya digunakan untuk menumpuk kekayaan segelintir orang… maka kemajuan itu bukanlah kemajuan yang sesungguhnya dan tidak akan pernah bertahan.”
— Henry George, Progress and Poverty, Buku I Bab 1
Belum lama ini saya menyelesaikan Progress and Poverty karya Henry George, setelah tahun lalu membaca Capital, Jilid I karya Karl Marx. Sejak itu saya terus memikirkan perbedaan yang begitu mencolok, sekaligus kemungkinan titik temu, antara dua karya klasik ekonomi politik tersebut. Meskipun Marx dan George biasanya dipandang sebagai dua pemikir yang berada di kubu yang berbeda dan sampai pada kesimpulan yang berlainan, gagasan mereka sesungguhnya tidak sepenuhnya bertentangan. Analisis keduanya justru menawarkan sudut pandang yang berbeda mengenai kapitalisme dan kepemilikan tanah. Masing-masing menghadirkan perspektif yang khas, dan ketika dibaca secara berdampingan, tampak sejumlah perbedaan yang menarik sekaligus kemungkinan untuk saling melengkapi. Namun sebelum membandingkan keduanya, akan lebih baik jika kita terlebih dahulu memahami masing-masing karya agar dapat melihat dengan jelas titik berangkat kedua pemikir tersebut.
Pokok-pokok pemikiran Marx dalam Capital: A Critique of Political Economy, Jilid I, sebenarnya sudah cukup dikenal, yakni materialisme historis, eksploitasi kerja, dan fetisisme komoditas. Di antara ketiganya, materialisme historis merupakan konsep yang paling akrab karena telah muncul jauh sebelum Capital diterbitkan. Dalam The Communist Manifesto, yang terbit hampir dua puluh tahun sebelumnya, Marx menulis bahwa “sejarah seluruh masyarakat yang pernah ada adalah sejarah perjuangan kelas.” Dari sinilah fondasi utama pemikirannya dibangun.
Namun demikian, Marx juga memandang kapitalisme sebagai kekuatan paling progresif dalam sejarah manusia hingga masa hidupnya, meskipun ia tidak menutup mata terhadap asal-usulnya yang penuh kekerasan. Ia bahkan menulis bahwa “modal lahir dengan darah dan lumpur yang menetes dari setiap pori-porinya” (Bab 26). Menurut Marx, kapitalisme telah memperpanjang harapan hidup, melahirkan berbagai inovasi, dan membuka kemungkinan-kemungkinan baru bagi perkembangan manusia. Tetapi sebagai seorang kritikus sosial, ia juga melihat kontradiksi-kontradiksi yang melekat di dalam sistem tersebut. Dari kontradiksi-kontradiksi inilah seluruh analisis ekonominya berkembang. Pada akhirnya, ia berpendapat bahwa kontradiksi-kontradiksi tersebut akan membawa kapitalisme menuju kehancurannya sendiri. Sebagaimana ia tuliskan dalam Bab 25, “Akumulasi kekayaan di satu kutub pada saat yang sama berarti akumulasi kemiskinan, penderitaan kerja, perbudakan, kebodohan, kebrutalan, dan kemerosotan mental di kutub yang lain.”
Kini kita beralih kepada Henry George, yang memusatkan perhatiannya pada satu hal yang bahkan hingga hari ini masih sering diabaikan oleh banyak ekonom, yakni tanah. Narasi yang umum kita dengar dari para ekonom arus utama biasanya menyederhanakan asal-usul nilai menjadi “modal ditambah kerja menghasilkan nilai”. George berpendapat bahwa rumusan tersebut mengabaikan satu faktor penting, yaitu tanah.
Seperti banyak ekonom klasik lainnya, George menganut teori nilai kerja (labor theory of value), sebuah teori yang kini justru semakin jarang dianut, terutama oleh ekonom liberal modern. Menurut George, kerja mendahului modal. Bahkan tanpa modal sekalipun, kerja masih dapat menciptakan nilai. Sebaliknya, modal tidak mungkin ada tanpa kerja yang lebih dahulu menciptakannya. Namun, dari mana kerja itu sendiri berasal? Jika kerja adalah aktivitas fisik maupun intelektual manusia yang menghasilkan sesuatu yang berguna atau dapat dipertukarkan secara sukarela, lalu di mana aktivitas itu berlangsung? Dari mana manusia memperoleh ruang untuk bekerja?
George menjawab bahwa semuanya berawal dari tanah. Bumi telah ada jauh sebelum manusia muncul. Di atas tanahlah manusia berevolusi, bercocok tanam, membangun tempat tinggal, menciptakan teknologi, dan membentuk peradaban. Karena itu, apabila kerja mendahului modal, maka tanah mendahului kerja. Sebagaimana ia tuliskan,
“Kerja adalah kekuatan yang aktif dan menjadi penggerak pertama dalam produksi…. Tanah adalah faktor yang pasif. Tanpa tanah, kerja tidak dapat berlangsung; tetapi tanpa kerja, tanah tidak memiliki kegunaan.”
(Progress and Poverty, Buku III, Bab 3)
Dari sini George berpendapat bahwa hak setiap orang atas tanah pada dasarnya bersifat sama. Tanah bukanlah hasil ciptaan manusia, sehingga tidak ada seorang pun yang dapat mengklaim hak moral yang lebih besar atasnya dibanding orang lain. Kepemilikan pribadi atas tanah mengubah sesuatu yang semestinya menjadi milik bersama menjadi objek monopoli. Sebagaimana ia tuliskan,
“Sebagaimana setiap orang berhak menghirup udara, setiap orang juga memiliki hak yang sama atas tanah. Hak itu muncul dari fakta paling sederhana bahwa manusia itu ada.”
(Progress and Poverty, Buku VII, Bab 1)
Dari sinilah George menyimpulkan bahwa kemiskinan yang tetap bertahan di tengah kemajuan ekonomi bukanlah sebuah paradoks, melainkan akibat dari monopoli atas tanah. Semakin maju suatu masyarakat, semakin tinggi pula nilai tanah, dan semakin besar pula keuntungan yang dinikmati oleh para pemiliknya tanpa harus bekerja.
Setelah memahami pokok-pokok pemikiran kedua tokoh tersebut, kita kini dapat membandingkan keduanya secara lebih langsung tanpa terjebak polarisasi ideologi biner.
Gaya Penulisan yang Berbeda Mencerminkan Pendekatan yang Berbeda
Salah satu perbedaan yang paling mencolok antara Marx dan George terletak pada gaya penulisan mereka.
George menulis dengan gaya yang sangat hidup. Prosa yang digunakannya kaya akan ilustrasi dan mengalir dengan ringan. Seandainya ia lebih banyak menulis karya fiksi daripada ekonomi politik, mungkin ia akan dikenang sebagai seorang novelis.
Sebaliknya, Capital karya Marx lebih menyerupai sebuah risalah akademik yang padat. Hampir seluruh bukunya dipenuhi analisis ekonomi yang sistematis, meskipun sesekali diselingi permainan kata yang cukup jenaka. Perbedaan ini bukan sekadar persoalan gaya, tetapi juga mencerminkan pendekatan masing-masing terhadap persoalan yang mereka bahas.
Gaya bertutur George yang lebih sastrawi sejalan dengan penekanannya pada dimensi moral. Ia membangun kritik terhadap kemiskinan dan kepemilikan tanah bukan hanya sebagai persoalan ekonomi, tetapi juga sebagai persoalan benar dan salah. Baginya,
“Kepemilikan pribadi atas tanah adalah sebuah kesalahan yang sama besarnya dengan perbudakan manusia.”
(Progress and Poverty, Buku VII, Bab 1)
Sebaliknya, Marx menulis dengan pendekatan yang jauh lebih sistematis. Perhatiannya tertuju pada mekanisme internal kapitalisme, bagaimana sistem tersebut bekerja, bagaimana eksploitasi terjadi, dan bagaimana kontradiksi-kontradiksi yang terkandung di dalamnya pada akhirnya akan membawa kapitalisme menuju krisisnya sendiri.
Fokus yang Berbeda terhadap Modal dan Tanah
Sebagaimana telah disampaikan pada bagian pendahuluan, Marx memusatkan perhatiannya pada kontradiksi-kontradiksi di dalam sistem kapitalisme, dengan menganalisis bagaimana kontradiksi tersebut melahirkan eksploitasi dan krisis yang bersifat sistemik. Meskipun dalam Capital ia mengkritik kapitalisme secara luas, ia tidak menawarkan solusi di dalam karya tersebut. Solusi itu telah ia kemukakan bertahun-tahun sebelumnya dalam The Communist Manifesto, yang ditulis bersama Friedrich Engels.
Sementara itu, melalui penelitiannya, George menyimpulkan bahwa kemiskinan yang terus meningkat disebabkan oleh para pemilik tanah yang memperoleh kekayaan tanpa bekerja dari kepemilikan atas tanah. Menurutnya, jalan keluarnya adalah menghapus kepemilikan pribadi atas tanah dengan menjadikannya milik bersama. Namun, sejalan dengan sikap libertariannya yang menolak penggunaan paksaan oleh negara, ia menegaskan bahwa hal itu bukan dilakukan melalui penyitaan tanah.
“Kita harus menjadikan tanah sebagai milik bersama… bukan dengan menyita tanah, melainkan dengan mengambil nilai sewanya melalui pajak dan menghapus seluruh pajak atas hasil kerja.”
(Progress and Poverty, Buku VIII, Bab 2)
George mengusulkan agar tujuan tersebut dicapai melalui pajak tunggal atas tanah yang belum dikembangkan (single tax on unimproved land), yang lebih dikenal sebagai Pajak Nilai Tanah (Land Value Tax). Menurutnya, kebijakan ini akan mendorong penggunaan tanah secara lebih efisien sekaligus mengurangi praktik spekulasi.
Meskipun fokus keduanya berbeda, baik Marx maupun George sama-sama berhasil mengidentifikasi persoalan mendasar dalam struktur ekonomi pada zamannya. Analisis Marx mengenai eksploitasi kerja dapat dibaca berdampingan dengan pandangan George mengenai pendapatan yang diperoleh tanpa bekerja dari kepemilikan tanah.
Menyintesiskan Gagasan Keduanya untuk Perspektif yang Lebih Luas
Terlepas dari berbagai perbedaannya, sebagaimana telah disinggung sebelumnya, gagasan Marx dan George dapat disintesiskan menjadi kritik yang lebih menyeluruh terhadap kapitalisme. Analisis Marx mengenai kecenderungan kapitalisme untuk menghancurkan dirinya sendiri melengkapi pandangan George mengenai tanah sebagai milik bersama.
Bukankah masuk akal jika kita menyimpulkan bahwa yang menjadi persoalan bukanlah apakah monopoli itu terjadi atas modal atau atas tanah, melainkan monopoli itu sendiri? Ketika suatu sumber daya terkonsentrasi terlalu besar di tangan segelintir orang dengan mengorbankan banyak orang, eksploitasi dan kemiskinan menjadi hampir tak terhindarkan. Bagi kedua pemikir ini, keadaan tersebut merupakan tragedi yang sebenarnya dapat dicegah, tetapi dimungkinkan oleh lembaga-lembaga yang diciptakan manusia.
Sebagaimana ditulis George,
“Di alam, tidak ada alasan mengapa kemiskinan harus ada. Penyebabnya terletak pada lembaga-lembaga buatan manusia yang merampas untuk segelintir orang apa yang sesungguhnya menjadi milik semua orang.”
(Progress and Poverty, Buku IV, Bab 3)
Seseorang dapat berpendapat, sebagaimana Marx, bahwa kapitalisme pada awalnya merupakan kekuatan yang progresif dibandingkan feodalisme, tetapi kini mulai memperlihatkan tanda-tanda kegagalan yang bersifat sistemik.
Di sisi lain, Pajak Nilai Tanah yang diusulkan George dapat menjadi cara untuk mengurangi ketimpangan ekonomi karena, dalam bentuk idealnya, rente tanah akan dihapus, sementara kelebihan penerimaannya didistribusikan kembali sebagai pendapatan dasar.
Sementara itu, kritik Marx terhadap kontradiksi modal serta usulannya untuk menghapus kepemilikan pribadi atas alat-alat produksi menunjukkan perlunya perubahan sistem yang lebih luas. Pendekatan dialektis semacam ini memungkinkan kita memadukan wawasan kedua pemikir tersebut sehingga menghasilkan pemahaman yang lebih kaya mengenai ekonomi politik.
Penutup
Secara pribadi, pandangan saya berada di antara Marx dan George. Saya sejalan dengan analisis Marx mengenai kapitalisme, dan banyak hal yang ia tulis masih tetap relevan hingga hari ini. Namun saya tidak menerima filsafat yang nyaris menyerupai agama maupun pandangan sejarah yang monokausal yang sering dikaitkan dengan Marxisme.
Di sisi lain, kritik George terhadap kepemilikan tanah sangat meyakinkan. Namun ia gagal melihat bahwa kritik yang ia tujukan kepada kepemilikan tanah juga dapat diterapkan pada kepemilikan pribadi atas modal.
Menariknya, meskipun saya seorang anarkis dan sosialis, saya justru merasa sedikit lebih dekat dengan George. Tulisan-tulisannya memancarkan harapan dan kecintaan yang tulus kepada kemanusiaan, sedangkan Marx sering kali terdengar getir dan penuh kemarahan terhadap kelas penguasa, meskipun kemarahan itu bukan tanpa alasan.
Sejak menyelesaikan Progress and Poverty, saya menjadi lebih sering memperhatikan papan bertuliskan “For Rent” ketika berkendara di kota. Hampir selalu papan tersebut mencantumkan nama perusahaan properti yang memiliki bangunan itu. Saya juga merasakan secara langsung bagaimana kepemilikan tanah menciptakan relasi kuasa yang tidak adil di tempat saya bekerja. Perusahaan tempat saya bekerja ingin menerapkan program daur ulang, tetapi pemilik tanah tempat usaha itu berdiri tidak mengizinkannya.
Namun kembali pada pokok pembahasan, pengaruh George melintasi berbagai spektrum politik, mulai dari ekonom libertarian kanan Milton Friedman hingga penulis dan anarkis abad ke-19 Leo Tolstoy. Hal ini menunjukkan luasnya daya tarik gagasan-gagasannya.
Di sisi lain, penerapan Marxisme oleh Vladimir Lenin, Joseph Stalin, dan Mao Zedong pada abad ke-20 memperlihatkan satu hal penting. Marx mungkin berhasil mengidentifikasi persoalan-persoalan dalam kapitalisme dengan sangat tepat, tetapi para pengikutnya sering kali menghasilkan solusi yang mengerikan.
Bahkan Noam Chomsky pernah mengatakan bahwa prediksi sesama anarkis Mikhail Bakunin bahwa negara-negara Marxis akan berubah menjadi kediktatoran kapitalisme negara merupakan “salah satu dari sedikit prediksi dalam ilmu-ilmu sosial yang benar-benar menjadi kenyataan.”
Sebagai penutup, bagi siapa pun yang tertarik mempelajari ekonomi politik, membaca Capital dan Progress and Poverty akan memberikan wawasan yang sangat berharga dan tetap relevan bagi berbagai perdebatan kontemporer.
Support Ameyuri Ringo by considering becoming his Patron.
The Center for a Stateless Society (www.c4ss.org) is a media center working to build awareness of the market anarchist alternative
Source: https://c4ss.org/content/61221
Anyone can join.
Anyone can contribute.
Anyone can become informed about their world.
"United We Stand" Click Here To Create Your Personal Citizen Journalist Account Today, Be Sure To Invite Your Friends.
Before It’s News® is a community of individuals who report on what’s going on around them, from all around the world. Anyone can join. Anyone can contribute. Anyone can become informed about their world. "United We Stand" Click Here To Create Your Personal Citizen Journalist Account Today, Be Sure To Invite Your Friends.
LION'S MANE PRODUCT
Try Our Lion’s Mane WHOLE MIND Nootropic Blend 60 Capsules
Mushrooms are having a moment. One fabulous fungus in particular, lion’s mane, may help improve memory, depression and anxiety symptoms. They are also an excellent source of nutrients that show promise as a therapy for dementia, and other neurodegenerative diseases. If you’re living with anxiety or depression, you may be curious about all the therapy options out there — including the natural ones.Our Lion’s Mane WHOLE MIND Nootropic Blend has been formulated to utilize the potency of Lion’s mane but also include the benefits of four other Highly Beneficial Mushrooms. Synergistically, they work together to Build your health through improving cognitive function and immunity regardless of your age. Our Nootropic not only improves your Cognitive Function and Activates your Immune System, but it benefits growth of Essential Gut Flora, further enhancing your Vitality.
Our Formula includes: Lion’s Mane Mushrooms which Increase Brain Power through nerve growth, lessen anxiety, reduce depression, and improve concentration. Its an excellent adaptogen, promotes sleep and improves immunity. Shiitake Mushrooms which Fight cancer cells and infectious disease, boost the immune system, promotes brain function, and serves as a source of B vitamins. Maitake Mushrooms which regulate blood sugar levels of diabetics, reduce hypertension and boosts the immune system. Reishi Mushrooms which Fight inflammation, liver disease, fatigue, tumor growth and cancer. They Improve skin disorders and soothes digestive problems, stomach ulcers and leaky gut syndrome. Chaga Mushrooms which have anti-aging effects, boost immune function, improve stamina and athletic performance, even act as a natural aphrodisiac, fighting diabetes and improving liver function. Try Our Lion’s Mane WHOLE MIND Nootropic Blend 60 Capsules Today. Be 100% Satisfied or Receive a Full Money Back Guarantee. Order Yours Today by Following This Link.

