Read the Beforeitsnews.com story here. Advertise at Before It's News here.
Profile image
By Center for a Stateless Society
Contributor profile | More stories
Story Views
Now:
Last hour:
Last 24 hours:
Total:

Meritokrasi adalah Omong Kosong!

% of readers think this story is Fact. Add your two cents.


Oleh: Kevin Carson. Teks aslinya berjudul “Meritocracy is Bullshit”. Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Ameyuri Ringo.

Support Ameyuri Ringo by considering becoming his Patron.

Dalam sebuah wawancara terbaru dengan Jordan Peterson, Elon Musk menyatakan bahwa salah satu nilai yang ia pegang adalah “meritokrasi, sebanyak mungkin meritokrasi, sehingga seseorang maju berdasarkan keterampilannya, dan bukan karena hal lain.”

“Meritokrasi” sering dipandang oleh kaum liberal sebagai sesuatu yang akan baik apabila benar-benar terwujud, berbeda dengan sistem saat ini yang dianggap belum meritokratis. Sistem yang ada dianggap bermasalah karena gagal menyediakan kesempatan pendidikan dan pelatihan yang setara bagi semua orang, serta karena kemajuan karier dan tingkat upah tidak selalu mencerminkan standar keterampilan dan kinerja yang objektif serta diterapkan secara konsisten.

Namun, sekalipun sistem berjalan berdasarkan aturan-aturan semacam itu, meritokrasi tetaplah bermasalah. Selain alasan-alasan lainnya, meritokrasi pada dasarnya merupakan omong kosong karena mengandaikan bahwa kerangka institusional yang dominan beserta standar “merit”-nya memang sah dan layak diterima.

Tidak ada yang namanya “merit” atau “keterampilan” yang bersifat umum dan netral. Seseorang hanya dapat menunjukkan keterampilan dalam melakukan sesuatu yang spesifik—menjalankan tugas tertentu. Gagasan tentang “keterampilan” sebagai karakteristik netral yang dapat diukur secara objektif mengabaikan fakta bahwa tugas-tugas itu sendiri dipilih oleh mereka yang berkuasa dan diberikan kepada bawahannya, dalam konteks di mana tujuan-tujuan institusional ditentukan oleh pihak-pihak yang kepentingannya dilayani oleh institusi tersebut.

Pada kenyataannya, orang dinilai berdasarkan “merit” sejauh mereka efektif dalam melayani sistem kekuasaan yang tujuan utamanya adalah ekstraksi kekayaan, serta berdasarkan “keterampilan” mereka dalam menjalankan tugas-tugas yang diperlukan agar sistem kekuasaan tersebut terus berfungsi.

Bayangkan jika Auschwitz dijalankan secara meritokratis, dan pertimbangkan keterampilan seperti apa yang akan digunakan untuk menilai para pegawainya. Jika direnungkan sejenak, akan segera terlihat bahwa konsep “meritokrasi” sama sekali tidak berarti apa-apa kecuali jika kita terlebih dahulu mengevaluasi legitimasi tugas-tugas yang dikerjakan dan kepentingan siapa yang sebenarnya dilayani oleh tugas tersebut.

Pertimbangkan pekerjaan-pekerjaan dengan bayaran tertinggi dalam kapitalisme Amerika. Sebagian besar di antaranya mencerminkan kenyataan institusional bahwa perusahaan-perusahaan besar dikelola secara hierarkis atas nama para bos yang tidak terlibat langsung dalam aktivitas produksi. Karena kekuasaan yang mengalir dari atas ke bawah sering kali mendistorsi arus informasi dalam sebuah hierarki, keputusan yang diambil para manajer senior di puncak organisasi kerap lebih buruk daripada keputusan yang dapat dibuat oleh pekerja yang memiliki pengetahuan langsung mengenai proses produksi, atau oleh orang-orang yang bertanggung jawab langsung kepada mereka. Namun perusahaan kapitalis yang dimiliki oleh para bos lalim nan jauh diatas sana jelas tidak akan membiarkan para pekerja mengendalikan produksi secara langsung karena adanya konflik kepentingan yang secara inheren melekat. Para pekerja sadar bahwa setiap kontribusi mereka terhadap peningkatan produktivitas pada akhirnya dapat dirampas oleh manajemen dalam bentuk percepatan ritme kerja atau pengurangan tenaga kerja.

Karena alasan yang sama, muncul pula berbagai pekerjaan administratif, pengawasan, dan manajemen tingkat bawah. Semua itu merupakan akibat dari irasionalitas yang sama: pekerja tidak dapat dipercaya untuk bekerja sebaik mungkin atau memanfaatkan pengetahuan situasional mereka secara efektif ketika mereka tahu bahwa kepentingan mereka bertentangan dengan kepentingan pihak yang menjalankan organisasi. Itulah sebabnya pabrik-pabrik kayu lapis swakelola di wilayah Pacific Northwest hanya memiliki sekitar seperempat jumlah manajer lapangan dibandingkan pabrik-pabrik milik kapitalis. Ketika para pekerja memiliki dan mengelola pabrik mereka sendiri, kepentingan pribadi mereka sudah cukup menjadi motivasi untuk bekerja secara maksimal, menggunakan pengetahuan mereka secara efektif, dan memberi sanksi kepada mereka yang bermalas-malasan.

Dengan alasan yang serupa, masyarakat secara keseluruhan dipenuhi oleh berbagai bentuk “tenaga penjaga”: polisi, satpam, pengacara, dan sebagainya. Keberadaan mereka berfungsi untuk mengimbangi konflik kepentingan yang muncul akibat terkonsentrasinya kekayaan dan kepemilikan yang terpisah dari penggunaan langsung.

Dengan kata lain, jika kita membuat diagram Venn antara seluruh tugas yang menjadi dasar penilaian “merit” dan apa yang oleh David Graeber disebut sebagai “bullshit jobs” atau pekerjaan omong kosong, maka akan terdapat irisan yang sangat besar.

Sebagian besar pekerjaan yang telah dijelaskan sejauh ini sebenarnya bersifat sekunder terhadap produksi yang nyata, dan hanya mencerminkan irasionalitas institusional dalam kepemilikan serta pengawasan proses produksi. Namun organisasi dan struktur produksi itu sendiri juga merupakan hasil dari satu pilihan tertentu di antara banyak alternatif yang mungkin, dan lebih banyak ditentukan oleh kepentingan institusional serta kelas sosial daripada oleh standar efisiensi yang netral.

Produksi massal hanya tampak lebih “efisien” daripada produksi terdesentralisasi di tingkat komunitas karena adanya insentif pasar dan struktur harga yang telah didistorsi oleh subsidi negara terhadap biaya input dan perlindungan dari kompetisi. Karena dominannya produksi massal, keterampilan teknis yang dibutuhkan dan dihargai pun sangat berbeda dari keterampilan yang akan berkembang dalam ekonomi yang terdesentralisasi. Produksi massal bergantung pada teknologi yang berskala besar dan padat modal, serta secara historis berkaitan dengan gerakan yang dikenal sebagai Taylorisme atau Fordisme, yaitu upaya menghilangkan keterampilan dari pekerja lantai produksi dan memindahkan keterampilan serta kewenangan pengambilan keputusan ke tangan para insinyur dan manajer.

Sebaliknya, dalam ekonomi yang terdesentralisasi seperti yang dapat ditemukan di wilayah Emilia-Romagna, produksi dilakukan dengan mesin-mesin serbaguna berteknologi tinggi yang berukuran jauh lebih kecil. Sistem semacam ini membutuhkan pekerja yang memiliki kompetensi teknis tinggi dan berbagai macam keterampilan mesin.

Karena produksi massal menggunakan mesin yang sangat besar, mahal, dan padat modal, mesin-mesin tersebut harus dioperasikan pada kapasitas penuh agar biaya overhead dapat ditekan. Berbeda dengan ekonomi berbasis permintaan seperti yang ditemukan di pabrik-pabrik kecil berbiaya rendah di Emilia-Romagna, produksi massal menuntut barang diproduksi terlebih dahulu tanpa memperhatikan permintaan, lalu masyarakat lalu berbagai institusi sosial dan ekonomi dibentuk sedemikian rupa agar barang-barang tersebut pasti terserap pasar. Akibatnya, ekonomi tidak lagi diorganisasikan berdasarkan kebutuhan yang nyata, melainkan berdasarkan kebutuhan untuk menjaga mesin produksi tetap berjalan. Barang diproduksi terlebih dahulu, lalu masyarakat dibujuk, didorong, atau direkayasa untuk mengkonsumsinya. Karena itu kita melihat berkembangnya industri periklanan bertekanan tinggi, rantai distribusi jarak jauh, dan berbagai bentuk produksi yang pada dasarnya bersifat boros: kompleks industri militer, budaya car-centric yang ditopang subsidi, serta produk-produk yang sengaja dirancang agar cepat diganti. Jika pemborosan dan irasionalitas semacam ini dihilangkan, ada perkiraan yang cukup kredibel bahwa standar hidup saat ini dapat dipertahankan dengan hanya lima belas jam kerja per minggu.

Dengan demikian, sebagian besar pekerjaan produksi dan distribusi itu sendiri mungkin juga dapat dikategorikan sebagai “bullshit jobs”. Artinya, banyak standar yang kita gunakan untuk menilai “keterampilan” dan “merit” sebenarnya hanya berarti—meminjam kata-kata Peter Drucker—“melakukan dengan baik sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan sama sekali.”

Sebagaimana dikemukakan oleh Samuel Bowles dan Herbert Gintis beberapa dekade lalu dalam Schooling in Capitalist America, meritokrasi merupakan ideologi yang melayani kepentingan kelas penguasa. Ideologi ini menggambarkan struktur institusional dan kelas sosial yang ada seolah-olah muncul secara alami karena merupakan cara yang paling efisien untuk mengorganisasi masyarakat, atau karena memang itulah yang diinginkan orang-orang. Padahal, struktur tersebut dibentuk melalui penggunaan kekuasaan oleh mereka yang memperoleh manfaat langsung dari keputusan-keputusan tersebut, dan diatur sedemikian rupa agar dijalankan oleh orang-orang yang telah menginternalisasi nilai-nilai mereka yang berada di puncak hierarki.

Sistem ini dipertahankan dengan cara menciptakan tipe manusia yang memandangnya sebagai sesuatu yang tak terelakkan, serta terampil melakukan hal-hal yang diperlukan untuk melayaninya. Itulah yang sebenarnya dimaksud dengan seleksi berdasarkan “merit”.

Karena itu, setiap upaya untuk merancang ulang sistem agar melayani kepentingan yang berbeda—misalnya kepentingan kita sendiri—akan, menurut definisinya, dianggap sebagai sesuatu yang “radikal”. Dan memang demikian adanya.

The Center for a Stateless Society (www.c4ss.org) is a media center working to build awareness of the market anarchist alternative


Source: https://c4ss.org/content/61191


Before It’s News® is a community of individuals who report on what’s going on around them, from all around the world.

Anyone can join.
Anyone can contribute.
Anyone can become informed about their world.

"United We Stand" Click Here To Create Your Personal Citizen Journalist Account Today, Be Sure To Invite Your Friends.

Before It’s News® is a community of individuals who report on what’s going on around them, from all around the world. Anyone can join. Anyone can contribute. Anyone can become informed about their world. "United We Stand" Click Here To Create Your Personal Citizen Journalist Account Today, Be Sure To Invite Your Friends.


LION'S MANE PRODUCT


Try Our Lion’s Mane WHOLE MIND Nootropic Blend 60 Capsules


Mushrooms are having a moment. One fabulous fungus in particular, lion’s mane, may help improve memory, depression and anxiety symptoms. They are also an excellent source of nutrients that show promise as a therapy for dementia, and other neurodegenerative diseases. If you’re living with anxiety or depression, you may be curious about all the therapy options out there — including the natural ones.Our Lion’s Mane WHOLE MIND Nootropic Blend has been formulated to utilize the potency of Lion’s mane but also include the benefits of four other Highly Beneficial Mushrooms. Synergistically, they work together to Build your health through improving cognitive function and immunity regardless of your age. Our Nootropic not only improves your Cognitive Function and Activates your Immune System, but it benefits growth of Essential Gut Flora, further enhancing your Vitality.



Our Formula includes: Lion’s Mane Mushrooms which Increase Brain Power through nerve growth, lessen anxiety, reduce depression, and improve concentration. Its an excellent adaptogen, promotes sleep and improves immunity. Shiitake Mushrooms which Fight cancer cells and infectious disease, boost the immune system, promotes brain function, and serves as a source of B vitamins. Maitake Mushrooms which regulate blood sugar levels of diabetics, reduce hypertension and boosts the immune system. Reishi Mushrooms which Fight inflammation, liver disease, fatigue, tumor growth and cancer. They Improve skin disorders and soothes digestive problems, stomach ulcers and leaky gut syndrome. Chaga Mushrooms which have anti-aging effects, boost immune function, improve stamina and athletic performance, even act as a natural aphrodisiac, fighting diabetes and improving liver function. Try Our Lion’s Mane WHOLE MIND Nootropic Blend 60 Capsules Today. Be 100% Satisfied or Receive a Full Money Back Guarantee. Order Yours Today by Following This Link.


Report abuse

Comments

Your Comments
Question   Razz  Sad   Evil  Exclaim  Smile  Redface  Biggrin  Surprised  Eek   Confused   Cool  LOL   Mad   Twisted  Rolleyes   Wink  Idea  Arrow  Neutral  Cry   Mr. Green

MOST RECENT
Load more ...

SignUp

Login